Terik matahari, tak membuatku putus asa untuk selalu pergi ke kampus dengan mengayuh sepeda ontel tuaku. Walau banyak orang yang mengejek dan menertawakan ketika mereka melihatku mengayuhnya.
Aku sayang sekali dengan sepeda ontel tuaku ini. Dia selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi dan dia juga bisa menghiburku ketika aku sedang sedih. Dengan bunyi belnya yang khas “kriing…kriing…kring…” disambut juga dengan nanyian pedal butut yang melantunkan suara merdu “ngikkk…ngikkk..ngikkk…” ditambah dengan suara ban yang berkolaborasi dengan slebor menimbulkan irama berdecit “ciiitttt…ciiittt…ciiitt…” menambah semarak setiap perjalananku. Dia meluncur perlahan di jalanan yang ramai dan beradu dengan ganasnya kendaraan-kendaraan yang memakai mesin sehingga berlari-lari dengan kencangnya, sering aku menyebutnya dengan nama “monster jalanan”..
Aku sangat bangga sekali ketika mengayuh sepeda ontel tuaku. Lebih-lebih dikarenakan membuat badan ini tetap sehat, pepatah juga bilang “sambil menyelam minum air.” Dengan mengayuh sepeda, aku bisa pergi ke kampus atau kemanapun sambil berolah raga. Hhmmmm… sangat jarang sekali, bahkan tidak pernah ada waktu bagi orang-orang untuk berolah raga. Padahal itu sangat penting bagi kesehatannya.
Aku juga bangga kepada sepeda ontel tua milikku ini, karena dia selalu mengantarkanku dan tak pernah mengeluh kehausan. Berbeda sekali dengan saingan-saingannya yaitu monster-monster jalanan. Mereka melaju kencang dan sering mengeluh kehausan, sehingga majikannya harus merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli minuman kesukaannya di SPBU. Wah, begitu manjanya monster-monster jalanan itu.
Sepeda ontel tuaku juga tak pernah menghisap rokok apalagi menghasilkan asap. Berbeda dengan monster jalanan yang sering menghisap rokok, ya secara otomatis mereka juga turut menyumbang untuk menambah parahnya pemanasan global. Aku punya slogan “bersihkan lingkunganmu, sebelum lingkungan membersihkanmu”.
Terkadang banyak hal yang dapat ku pelajari ketika aku mengayuh sepeda ontel tua. Banyak juga pengalaman yang aku rasakan, perasaan senang dan sedih yang turut mewarnai kebersamaanku dengannya. Walau hujan lebat yang menjadikan aku basah kuyup, walau teriknya sinar matahari yang membuatku merasa seperti terpanggang. Tapi itu semua tak pernah membuatku mengeluh dan putus asa untuk selalu mangayuh dan mengayuh.
Habis, mau gimana lagi??? Nasi udah jadi bubur, karena aku sangat sayang sama sepeda ontel tuaku. Jadi biarlah nasi udah jadi bubur, ga bisa di apa-apain lagi. Tapi aku akan menambahkan kaldu, kedelai goreng, kacang goreng, bawang goreng, seledri, daging ayam dan krupuk. Maka jadilah bubur ayam spesial.
by..
wahyuz